Rutin Gelar Safari Dakwah ke Jepang, Santri Thursina IIBS Siap Islamkan Dunia

Thursina International Islamic Boarding School (IIBS) menggelar Safari Dakwah ke Jepang, sebuah perjalanan penuh yang bertujuan menebarkan nilai-nilai Islam di negeri matahari terbit. Rombongan berjumlah 32 orang, terdiri dari santri putra, santri putri beserta pendamping. Mereka terbagi dalam dua kelompok selama lima hari pertama, yaitu di Yokohama, dekat Masjid As-Sholihin sebagai tempat berdakwah, dan di Toyota Islamic Center, Kanagawa, yang berada di bawah naungan Sariraya, sebuah perusahaan milik warga Indonesia yang mengelola pabrik tempe dan restoran halal.

 

Menurut Syaihul Islam, S.Pd., sebagai murobbi, Safari Dakwah sejalan dengan prinsip dasar seorang Muslim yang memiliki tugas dan kewajiban untuk berdakwah. Seorang Muslim dianugerahi pemahaman agama yang harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui dakwah, para santri belajar untuk mempraktikkan ilmu yang mereka pelajari, sehingga ilmu tersebut semakin melekat dalam diri mereka. Ia menegaskan bahwa ilmu tanpa amal ibarat pohon yang tidak berbuah.


 

 

Jepang dipilih sebagai tujuan karena Islam adalah agama yang rasional, sementara Jepang dikenal sebagai negara yang mengedepankan akal dan logika. Budaya Jepang juga memiliki keselarasan dengan ajaran Islam, seperti kedisiplinan, kejujuran, dan keteraturan. Selain itu, tren perkembangan Islam di Jepang semakin positif, dengan semakin banyaknya penduduk lokal yang memeluk Islam serta meningkatnya dukungan pemerintah dalam pembangunan masjid dan komunitas Muslim. "Para santri juga diharapkan mendapatkan pengalaman berharga sebagai minoritas di negara dengan populasi Muslim yang sedikit, sekaligus mempelajari sejarah Islam di sana," tutur Ustadz Syaihul.

 

Ketika berdakwah di Jepang, para santri berusaha menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat setempat. Mereka menampilkan akhlak mulia dan menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang logis serta mudah diterima. Pendekatan ini diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat Jepang terhadap Islam.


 

 

Dalam pelaksanaannya, Thursina IIBS menjalin kerja sama resmi dengan beberapa lembaga Islam di Jepang. Salah satunya adalah Yayasan As-Sholihin di Yokohama. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan Masjid Indonesia Tokyo (MIT) yang turut membantu kegiatan mengajar TPQ, serta Musholla Ar-Rahman di Kanagawa yang rutin mengadakan pesantren kilat dengan santri Thursina IIBS sebagai pengajar. Toyota Islamic Center di Prefektur Aichi juga menjadi mitra penting dalam program Thursina IIBS di Jepang.

 

Safari Dakwah memberikan banyak pengalaman berharga. Salah satu momen yang paling berkesan adalah sikap toleransi masyarakat Jepang. Meski terdapat banyak perbedaan budaya dan keyakinan, warga Jepang sangat menghormati pendatang selama mereka bersikap sopan dan tidak mengganggu ketertiban umum. Para santri pun mendapatkan perlakuan yang sama seperti masyarakat lokal. Selain itu, kehangatan dari warga Indonesia di Jepang menjadi pengalaman yang menginspirasi. "Mereka menyambut kami dengan keramahan, seolah bertemu keluarga sendiri. Kebaikan dan dukungan mereka sangat terasa selama kegiatan berlangsung,” tambah Ustadz Syaihul.


  

 

Ikatan antara santri Thursina dengan komunitas Muslim di Jepang tidak berhenti setelah Safari Dakwah berakhir. Bahkan, alumni yang pernah mengikuti program masih menjalin komunikasi dengan jamaah Taman Pendidikan Alquran (TPQ) hingga sekarang. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui lisan, tetapi juga dengan membangun hubungan dan memperlihatkan akhlak yang baik.

 

Ke depannya, Safari Dakwah diharapkan dapat terus dilaksanakan setiap tahun di bulan Ramadan. Program tersebut menjadi salah satu cara untuk menyebarkan nilai-nilai Islam ke berbagai penjuru dunia. Tentunya melalui peran santri Thursina IIBS yang siap menjadi duta dakwah di kancah internasional. (sls/lil)

Share this post